
KEMALUAN YANG MEMBANGGAKAN
KEMALUAN YANG MEMBANGGAKAN Oleh; Rahmat Hidayat HM "Mengapa Harus Malu Pada Budaya Sendiri?" demikianlah tema seminar, diskusi, atau boleh disebut presentasi kebudayaan sebagai salah satu kegiatan Cultere Week di FE UII. Mungkin kita akan berfikir, apakah benar kita malu pada budaya sendiri? Apakah kita memang punya "kemaluan" yang besar sehingga apa yang patut dibanggakan malah dijadikan sumber rasa malu? Malu terhadap budaya sendiri memang bukan hal biasa di negara yang ber-Bhinneka Tunggal Ika ini. Nilai-nilai kebudayaan sudah semakin terkikis oleh gencarnya hantaman globalisasi dan modernisasi. Ironis memang, kebiasa (adat) sampai seni bermusik seperti gamelan sudah dianggap tak menjanjikan lagi untuk dijadikan sebuah eminensi di negara ini. Terkhusus pada generasi muda kita. Berbagai unsur kebudayaan kita marak diadopsi, ditiru, bahkan diambil alih oleh bangsa lain. Seharusnya kita khawatir akan hal ini, jangan sampai anak cucu kita diajari oleh kesenian sendiri oleh orang lain. Sebagai seni musik tradisional yang banyak dipelajari oleh negara lain, eksistensi gamelan patut dipertanyakan di tanah kelahirannya. Apakah para pemilik asli kesenian ini mempunyai semangat yang tinggi untuk melestarikannya? Menurut data dalam seminar itu, sudah ada 33 negara yang membuat sebuah Gamelan Network pada tahun 2005. Begitu hebatnya bisa kebudayaan Indonesia menyengat negara-negara lain di belahan dunia. Gamelan dianggap sebuah kesenian yang luar biasa karena kesenian yang berasal dari tanah Jawa ini merupakan pementasan terbesar kedua di dunia setelah sebuah orchestra (orkestra). Seharusnya rasa bangga akan hal itu ditunjukkan pada masyarakat dunia. Melestarikan kebudayaan memang menjadi suatu keharusan oleh sebuah bangsa. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang berbudaya. Menurut proklamator RI, Soekarno, kepribadian budaya merupakan salah satu pilar kesaktian sebuah bangsa setelah kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik. Pelestarian budaya harus melalui sebuah pendidikan agar dapat turut dirasakan oleh generasi muda kita. Namun sekarang, kurikulum budaya yang dikemas dalam muatan lokal nyaris tak dapat ditemukan lagi di lembaga pendidikan. Kalaupun ada hanya diperoleh di sekolah dasar.Bahkan pendidikan tentang kebudayaan dijadikan sebagai kompetisi. Sehingga masyarakat kita mengenal kebudayaan melalui sebuah peraduan (lomba), tidak didasari atas keikhlasan dan ketulusan untuk mempelajari kebudayaan itu. Kita patut berkaca pada mereka yang antusias dalam mempelajari budya kita. Mereka bersemangat belajar, kita tinggal diam menonton. Mereka bangga akan budaya kita, sedangkan kita malu dengan budaya kita sendiri. Sudah saatnya budaya dalam negara berkebudayaan ini dilestarikan dan dikembangkan oleh kita sendiri. Kebudayaan yang tebentang dari Sabang sampai Merauke harus menjadi kebangga nasional kita. Pemerintah dan kita semua harus menjadi hero dalam hal ini. Jangan sampai orang lain (foreigner) menjadi guru akan kebudayaan kita sendiri, jangan sampai kita yang pergi ke negara orang untuk belajar budaya kita, dan jangan sampai kita perlu paspor hanya untuk belajar gamelan.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar