24 Februari, 2009

Mengintip Para Siswa yang “Jaminan Mutu”
:: Ince Dian Aprilyani Azir ::


Sebagian siswa-siswi Kelas Khusus
Foto: Koleksi Ince Dian Aprilyani Azir.


Masalah pendidikan dasar dan menengah selalu menjadi perdebatan hangat, mulai dari kualitas pengajar, pendidikan berbiaya tinggi, kurikulum yang membebani siswa, hingga kesenjangan kualitas pendidikan di perkotaan dan daerah terpencil. Citizen reporter Ince Dian Aprilyani Azir yang sedang mengikuti pendidikan kelas khusus di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan, berbagi kabar tentang kegiatan pendidikan yang dirancang khusus bagi anak-anak berprestasi. Kelas khusus ini diharapkan bisa menghasilkan anak didik yang cerdas dan berkarakter. (p!)
Saya ingin berbagi kabar mengenai sebuah SMA Kelas Khusus (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) LPMP yang didirikan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sejak tahun 1989. Meski, terdapat 30 LPMP yang tersebar di seluruh Indonesia, tapi hanya Sulawesi Selatan yang mempunyai SMA Kelas Khusus LPMP, yang selanjutnya disebut sebagai SMA Kelas Khusus LPMP Sulawesi Selatan. Sampai saat ini, sekolah tersebut hanya menumpang di gedung LPMP (dulu dikenal sebagai gedung Balai Penataran Guru), yang terletak di Jalan AP. Pettarani.

Saat ini, saya tercatat sebagai siswa Kelas Khusus LPMP Makassar angkatan XIX, jurusan IPS. Di sekolah tersebut, hanya terdapat dua kelas yang menampung 70 siswak elas XII saja, yaitu 36 siswa jurusan IPA dan 34 siswa jurusan IPS.

Kelas khusus ini menampung berbagai macam perbedaan. Kemajemukan itu sangat terasa ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di kelas tersebut. Saya terkadang tertawa dalam hati saja ketika mendengar logat daerah saat berbicara dengan teman-teman lain. Saya takut kalau-kalau teman-teman baru saya itu tersinggung. Terlebih lagi, mereka pada dasarnya lebih sensitif dibanding siswa lainnya. Maklum saja, mereka masih memegang nilai adat daerahnya masing-masing.

Melawan minder
Sebagai siswi yang berasal dari daerah tuan rumah, tentunya saya harus menanamkan sikap toleransi. Lagi pula, kami juga bisa akrab meski berbeda daerah. Rasa minder terhadap siswa yang berasal dari Makassar, tidak dirasakan oleh Halim Al-Mushawwir (SMAN 03 Palopo) dan Putut Setiawan (SMAN 01 Masamba),.

Menurut Halim, “Siswa dari Makassar memilki tujuan yang sama dengan kami yang berasal dari daerah, yaitu mencari ilmu dan sama-sama belajar di LPMP, jadi, buat apa merasa minder.”

Hal yang senada juga dikemukakan oleh Putut, “Siswa dari Makassar cukup pintar-pintar, saya menjadi termotivasi dan mereka saya jadikan sebagai tempat untuk bertanya dan menambah pengetahuan tentang metode belajar dan cara menyelesaikan soal.”

Berbagai kunci yang harus kita pegang ketika memasuki kelas khusus tersebut, di antaranya kemampuan beradaptasi, rasa toleran, kemandirian, dan didukung oleh kemampuan intelektual yang cukup.

Karena untuk mendapat bangku di kelas itu, kita harus mendapat surat rekomendasi dari sekolah asal, selain itu, kita juga harus bersaing dengan calon siswa lainnya yang mayoritas berasal dari daerah melalui ujian masuk.

Tes masuk ke sekolah tersebut antara lain tes tertulis (tes kemampuan umum dan tes kemampuan jurusan) dan tes wawancara (wawancara bahasa Inggris dan wawancara psikologi oleh Penanggung Jawab bidang Akademik/Kepala SMA Kelas Khusus LPMP Sulsel).

Menurut Prayudi Suharno, siswa asal SMAN 03 Pare-Pare jurusan IPS, “Soal Tes Kemampuan Umum yang terdiri dari 98 nomor itu sulit, karena semuanya harus diselesaikan memakai logika, layaknya tes masuk STAN (Sekolah Tinggi Administrasi Negara). Selain itu, saya juga harus berusaha menaklukkan Tes Kemampuan Jurusan sebanyak 7 nomor dari 4 mata pelajaran yang diujikan, yang terdiri atas 2 nomor Sosiologi yang memuat pertanyaan mengenai ciri-ciri penduduk desa dan unsur-unsur karya ilmiah, 1 nomor mata pelajaran ekonomi mengenai perhitungan pendapatan nasional, 2 nomor Matematika bertanya mengenai linear dan pertidaksamaan, dan 2 nomor Geografi yang bertanya mengenai AMDAL dan perbedaan masyarakat desa dan kota. Setelah itu, kita juga harus melalui tes wawancara Bahasa Inggris yang meminta setiap siswa untuk bisa memperkenalkan daerah masing-masing tentunya dalam Bahasa Inggris.”

Lebih lanjut ia menjelaskan, “Terakhir, kita juga harus melalui tes psikologi yang lebih mengarah kepada kesiapan mental calon siswa. Terlepas dari tantangan itu, saya sangat bersyukur bisa lulus di sekolah ini, meski saya cukup sulit untuk bisa beradaptasi dikarenakan oleh kerinduan saya terhadap teman-teman saya di SMAN 03 Pare-Pare, kenangan yang ditorehkan oleh teman-teman saya tersebut tentunya sangat sulit untuk dilupakan.”

Teman saya dari jurusan IPA, Halim Al-Mushawwir, siswa asal SMAN 03 Palopo, juga turut membagikan pengalamannya menghadapi ujian masuk Kelas Khusus LPMP Sulsel. Pada dasarnya, tes yang diujikan untuk bisa menjadi siswa kelas khusus jurusan IPA itu sama saja soal dan tingkat kesulitannya dengan mereka yang berada di jurusan IPS. Bedanya hanya terletak pada Tes Kemampuan Jurusan. “Menurut saya, tes kemampuan jurusan IPA itu agak sulit. Saya harus bisa menaklukkan 6 nomor dari 4 mata pelajaran yang diujikan, yaitu 2 nomor Kimia yang berhubungan dengan stoikiometri dan kimia karbon, 2 nomor biologi mengenai radikal dan PAN, 1 nomor Matematika mengenai komposisi, dan 1 soal Fisika yang terdiri dari tiga bagian, yang kesemuanya berhubungan dengan arus listrik. Uniknya, soal Fisika ini disajikan dalam bentuk Bahasa Inggris.”


Gedung LPMP yang dijadikan sekolah.
Foto: Ince Dian Aprilyani Azir.



Fasilitas melimpah
Berbagai fasilitas yang disediakan oleh sekolah tersebut membuat siswa kelas tiga berbondong-bondong ingin masuk ke sana, terutama mereka yang dari daerah. Para siswa tidak perlu mengeluarkan biaya Komite Sekolah atau iuran sekolah apa pun, kecuali kas kelas sebesar Rp1000/minggu untuk siswa IPS dan Rp2000/bulan untuk siswa IPA. Itu pun hanya dipakai untuk membiayai kebutuhan bersama yang ada di kelas tersebut, sisa cadangan kas kelas tersebut nantinya digunakan untuk membiayai sebagian keperluan study tour.

Selain itu, 5 buku pelajaran juga dibagikan secara gratis kepada masing-masing siswa. Buku mata pelajaran Geografi, Sosiologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Ekonomi-Akuntansi dibagikan secara cuma-cuma kepada kami yang berstatus sebagai siswa IPS. Untuk siswa jurusan IPA mereka dibagikan buku mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Kimia, dan Biologi.

Saat yang paling menyenangkan setiap harinya kecuali di bulan Ramadhan, adalah saat datangnya pembagian snack. Mereka yang tidak bisa hadir pada hari sekolah; entah alpa, sakit, atau pun izin; seringkali dimanfaatkan oleh mereka yang hadir, terutama hadir saat pembagian snack. Pembagian snack terkadang dilakukan saat jam istirahat tiba. Tak jarang, snack tersebut hanya disimpan di kantor Kepala Sekolah sehingga kita harus ke sana untuk bisa mendapat jatah snack.

Kalimat,”Saya ambil bagiannya si anu!” seringkali terdengar saat para siswa lainnya berebut mengambil jatah snack. Terkadang, yang hadir di sekolah tapi tidak hadir saat pembagian snack diambil jatahnya oleh teman-teman yang hadir pada saat pembagian snack.

Yang lebih menyenangkan lagi ketika uang transportdibagikan. Uang transpor untuk bulan Agustus dibagikan pada hari Selasa (11-09-2007) yang lalu digunakan oleh sebagian besar teman saya untuk mudik selama 5 hari libur.

Meski para siswa diberi fasilitas buku dan snack gratis serta biaya transport, secara materi, kesemuanya tidaklah mencukupi biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh Hijra, siswa asal SMAN 01 Sungguminasa yang tinggal di daerah Kalukuang, ujung Kabupaten Gowa. Dia menuturkan perubahan ekonomi yang cukup signifikan ketika dia bersekolah di kelas khusus. Misalnya saja, biaya transport yang dulunya hanya berkisar 150.000 sekarang harus mengeluarkan uang sekitar Rp 450.000 perbulannya. Hal senada banyak dikemukakan oleh mereka yang berasal dari daerah.

Bagi mereka yang tinggal atau punya rumah di Makassar, mungkin bukan hal yang sulit untuk bisa bersekolah di tempat itu. Tapi, bagi mereka yang berasal dari daerah harus rela menumpang pada sanak saudara atau menyewa rumah kontrakan baik secara kolektif maupun secara individu.

Hal ini dirasakan oleh Rizka Aprianty dan Musniaty, siswi asal SMAN 01 Marioriwawo, mereka harus rela menumpang di rumah Kakek Musniaty. Mereka menuturkan begitu banyak perubahan yang mereka alami semenjak bersekolah di Makassar terutama dalam program penghematan. Dulunya, mereka sangat bergantung pada kantong orang tua, sekarang mereka harus memanfaatkan uang seefisien mungkin. Apalagi, keseganan mereka untuk meminta uang kepada orang tua lebih tinggi semenjak mereka di Makassar. Hal itu menyebabkan, mereka harus rela jadi “anak rumahan” hal yang sangat kontras ketika mereka masih bersekolah di Kabupaten Soppeng, justru merekalah yang paling sering jalan sehingga jarang tinggal di rumah.

Putut Setiawan, siswa asal SMAN 01 Masamba, yang telah terbiasa indekos di daerah asalnya, tidaklah merasakan perubahan yang signifikan dari segi kemandirian. “Perubahan yang saya rasakan selama bersekolah di SMA Kelas Khusus LPMP Sulsel ini hanya berkisar pada cara belajar dan menjawab soal-soal dengan cepat. Kalau masalah mandiri, saya sudah terbiasa hidup mandiri. Di Masamba, saya juga harus hidup sendiri jauh dari orang tua,” ungkapnya dengan aksen Jawa yang cukup kental.

Sekali pun biaya akomodasi yang dikeluarkan teman-teman saya cukup tinggi, hal tersebut tidak membuat mereke berkeluh-kesah terus-menerus. Mereka sadar bahwa semuanya bertujuan untuk memberikan pelajaran kemandirian bagi para siswa sekaligus sebagai persiapan untuk menghadapi suasana kuliah nantinya.

Meski banyak siswa yang mengeluh masalah dana yang minim, tapi keluhan ini tidak ada nilainya dibanding tersedianya tenaga pengajar yang sangat berkualitas di kelas khusus ini. Mereka terdiri dari instruktur yang sering menatar ke daerah-daerah, tentunya mereka pun mempunyai metode-metode belajar yang lebih kreatif. Untuk mengajar di kelas Khusus pun tidaklah mudah, harus sesuai Surat Keputusan yang ditandatangani oleh gubernur selaku kepala pemerintahan. Suasana belajar yang cukup berbeda dari SMA pada umumya sangat terasa, terutama pada saat berlangsungnya proses diskusi.

Yusrianti, siswa asal SMAN 11 Makassar menuturkan, “Dalam proses dikusi muncullah berbagai macam dialek. Tapi, saya bangga akan Sulawesi Selatan yang memilki beraneka macam dialek.”

Jam belajar di SMA Kelas Khusus LPMP Sulawesi Selatan pun tidak seperti kebanyakan SMA lainnya. Para siswa belajar mulai pagi pukul 07.30 hingga sore hari tergantung dari ada tidaknya program belajar tambahan. Yang paling sering mendapat jam pelajaran tambahan adalah siswa IPA. Setiap hari Senin-Rabu, jadwal pelajaran mereka berlangsung hingga pukul 16.00. Sedangkan yang terjadi di kelas IPS, Senin dan Rabu adalah jadwal jam belajar hingga pukul 16.00 sedangkan di hari Selasa hanya sampai pukul 14.30.

Pada hari Kamis, jam pelajaran siswa IPA dan IPS berakhir pada pukul 15.15. Di hari Jum’at, jam pelajaran harus diakhiri pada pukul 11.10. Di hari Sabtu, siswa IPA masih belajar hingga pukul 13.15 sedangkan IPS hanya sampai pukul 11.15. Tetapi, semua siswa harus berkumpul kembali pada pukul 15.30 untuk mengikuti pelajaran olahraga.

Jam olahraga dimulai pada pukul 15.30 hingga pukul 17.00. Tempatnya pun tergantung dari kebutuhan. Ada dua tempat yang sering kita pakai untuk berolahraga yakni, lingkungan sekolah dan gedung olahraga Banta-Bantaeng.

Ada dua cara untuk menjangkau tempat olahraga tersebut, yaitu dengan cara menyewa jasa tukang becak sebesar Rp4000 sekali jalan atau pun berjalan kaki beberapa kilometer. Jalan kakilah yang paling sering dipilih sebagai cara untuk menuju ke tempat tersebut. Selain lebih murah, suasana seru dan menyenangkan pun sangat terasa apalagi jika kita beramai-ramai bersama dengan teman-teman.
Oleh karena itu, terik matahari dan lelahnya kaki berjalan kadang tak terasa. Apalagi, jika sampai pada pagar pembatas gedung olahraga itu. Seringkali, kami berebut untuk menaiki tangga pagar yang terbuat dari potongan kayu tinggi kurang lebih 150 cm dan memilki beberapa anak tangga yang berkisar antara 40 cm saja.

Meski jadwal pelajarannya cukup padat, tak jarang kami sebagai siswa harus senantiasa bersabar dan berusaha belajar sendiri atau pun mengerjakan “tugas titipan” Bapak dan Ibu guru ketika mereka harus menatar di daerah. Hal itu tidak membuat kami patah semangat untuk tetap bisa bertahan di tempat tersebut. Penanggung Jawab bidang Akademik, Drs. Abduh Makka M.Si yang secara administrasi disebut sebagai “Kepala Sekolah” pernah berujar, “Belajar karena ada guru adalah pemikiran yang kuno. Sehingga, kalian (siswa LPMP, red) seharusnya menanamkan paham modern bahwa belajar itu bukan hanya diperoleh dari guru. Banyak hal yang bisa kalian pelajari tanpa harus melalui guru.”

Para siswa sering mengisi waktu kosong itu dengan bertukar cerita mengenai adat, budaya dan sekolah asal masing-masing. Sekedar tambahan, kami masih menyandang gelar sekolah asal, meskipun kami sudah tidak belajar atau pun membayar iuran pada sekolah asal,

Jadi, setiap siswa memiliki dua lambang dan dua status sekaligus. Satu lambang asal sekolah masing-masing, satunya lambang SMA Kelas Khusus LPMP Makassar. Pemakaian kata Makassar pada lambang lokasi disepakati meski nama sebenarnya adalah SMA Kelas Khusus LPMP Sulawesi Selatan. Alasannya sederhana saja, karena lokasi sekolah tersebut berada di Makassar.

Pemakaian lambang sekolah asal menunjukkan bahwa semua yang berada di SMA Kelas Khusus LPMP Sulsel nantinya akan dijadikan indikator perbandingan prestasi antarsekolah yang ada di Sulawesi Selatan. Sehingga, setiap siswa memiliki tangung jawab yang besar terhadap sekolah asal masing-masing. Selain itu, nantinya nilai setiap siswa akan dikirim dan ditulis dalam raport sekolah masing-masing.

Berbagai kenangan manis sudah kami rasakan selama sebulan lebih. Sempat beredar kabar bahwa sekolah ini akan ditutup jika kehabisan anggaran dari Pemerintah Provinsi Sulsel. Pada dasarnya, sekolah ini memang sangat bergantung dari kebijakan Pemprov selaku pemilik. Sekolah ini sebenarnya hanya menumpang belajar di gedung LPMP yang terletak di Jalan Pettarani. Tapi, saya sebagai bagian dari Kelas Khusus LPMP tentunya sangat berharap sekolah ini masih terus eksis sampai kapan pun. Semoga anggaran dari Pemerintah Sulsel akan selalu ada untuk sekolah ini. Sangat disayangkan, jika 70 siswa dipulangkan ke sekolah asal masing-masing. Apalagi, mereka yang sudah mengeluarkan materi yang cukup besar, terutama mereka yang berasal dari daerah. (p!)

*Citizen reporter Ince Dian Aprilyani Azir dapat dihubungi melalui email incedianaprilyani8@gmail.com
www.panyingkul.com

1 komentar:

Anonim mengatakan...

INCE GIRING ZY SUKA WE MW K JUG IKUT...
KEREN SOB TP AD KURANGnYA K ND KENTARA FOTO q SY KWDK